Tuhan, Aku Masih Ingin DIkenal Oleh-Mu
Tuhan, Aku Masih Ingin Dikenal oleh-Mu adalah sebuah karya reflektif–spiritual yang merekam perjalanan batin seorang hamba dalam menjaga iman di tengah dunia yang terus menuntut, menggoda, dan melelahkan. Buku ini bukan kisah tentang kesucian, melainkan tentang kejujuranaali pulang kepada Tuhan.
Melalui narasi personal yang lembut dan penuh perenungan, penulis mengajak pembaca menelusuri fase-fase kehidupan: masa belajar taat sebelum memahami dunia, tumbuh dalam rumah yang sederhana namun kaya doa, hingga saat dunia mulai memanggil dan iman perlahan dinegosiasikan. Ketaatan yang dulu terasa utuh mulai bergeser menjadi rutinitas, doa menjadi singkat, dan ibadah dijalani tanpa kehadiran hati.
Buku ini juga mengisahkan konflik batin yang muncul ketika ambisi, amanah, cinta, dan keinginan untuk diterima bertabrakan dengan arah iman. Di titik tertentu, kelelahan yang dipendam melahirkan kesalahan, kesalahpahaman, teguran yang menjatuhkan, serta rasa bersalah yang membuat ibadah kehilangan rasa hangatnya. Penulis menunjukkan bahwa kejatuhan sering kali bukan akibat satu dosa besar, melainkan akumulasi kelalaian kecil yang dibiarkan tumbuh.
Namun, di balik retak dan jatuh itu, buku ini menyimpan pesan harapan. Bahwa iman yang terluka bukan iman yang mati. Bahwa rasa takut kehilangan Tuhan justru tanda bahwa hati masih hidup. Dan bahwa pulang tidak selalu berarti kembali dalam keadaan sempurna, melainkan kembali dengan kejujuran dan kerendahan hati.
Tuhan, Aku Masih Ingin Dikenal oleh-Mu adalah buku untuk mereka yang pernah merasa jauh tanpa benar-benar pergi, untuk hati yang lelah berlari tetapi belum ingin menyerah. Sebuah pengakuan lirih dari seorang hamba yang tidak meminta dipuji karena amalnya, melainkan berharap tetap dikenali oleh Tuhannya—sebagai manusia yang terus berusaha pulang.
KETERANGAN BUKU:
Judul: Tuhan, Aku Masih Ingin DIkenal Oleh-Mu
Penulis: Muhammad Hibatulloh
Jumlah Halaman: 146 halaman
Ukuran: 14x20 cm
