Hidup Untukmu Mati Tanpamu
Catatan Perenungan
Oleh: Unggul Purnomo Adjie
Membaca tulisan sahabat saya, Rahmat, tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa; karyanya menuntut jeda dan perenungan mendalam untuk bisa dicerna.
Rahmat dengan sangat jernih mengurai kenyataan bahwa manusia sama sekali tidak spesial di hadapan semesta yang bisu dan acuh. Namun, alih-alih menjatuhkan kita pada keputusasaan, tulisan ini justru mengembalikan kedaulatan penuh ke tangan manusia.
Jika semesta tidak peduli, maka kitalah yang harus peduli pada hidup kita sendiri. Kesadaran bahwa tidak ada entitas luar yang akan menyelamatkan kita adalah panggilan untuk menguatkan bahu. Kita dipaksa berhenti mengemis maklum pada takdir, lalu mulai memahat arti, kebanggaan, dan makna dari setiap luka secara mandiri.
Pada akhirnya, Rahmat berhasil mengingatkan kita: di hadapan kekosongan kosmis, kitalah tuhan bagi nasib kita sendiri—subjek merdeka yang memegang kendali penuh atas harga diri kita. Sebuah perenungan yang luar biasa tajam.
KETERANGAN BUKU:
Judul: Hidup Untukmu Mati Tanpamu
Penulis: Rahmat Taufik Sipahutar
Jumlah Halaman: 335 halaman
Ukuran: 14x20 cm
